Welcome  .....  Selamat Datang  .....  Horas  .....  Mejuah-juah  .....  Ya'ahowu  .....  Media Online Masyarakat Sumut  .....  Media - Iklan dan Promosi Provinsi Sumatera Utara  ..... 

Lagi, Pedagang Kecil Jadi Korban, Kampung Murah “Ramadhan” digelar

Tebing Tinnggi (Media-SMS) Para pedagang kaki lima dan pengusaha, menentang kegiatan pasar malam ‘Kampung Murah Ramadhan’ yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) kerjasama dengan Dinas Kouperindag Kota Tebingtinggi. Pasalnya, kegiatan itu dituding menyulitkan pedagang kecil dan kali lima, selain menjadi ajang bisnis demi keuntungan kelompok.

Pantauan, Selasa (10/7), kegiatan berpusat di Lapangan Merdeka, berlangsung 10 Juli hingga 6 Agustus 2013, sejak pukul 16.00 hingga 24.00 Wib. Melibatkan usaha besar dan mikro dari berbagai daerah sekitar Kota Tebingtinggi. Produk yang dijual, mulai dari barang industri dan perbankan, pengusaha harus membayar stand antara Rp 5,5 juta hingga Rp 8 juta, meski pedagang mikro (makanan/minuman) tidak dikutip bayaran.

Ucok Salim pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Jawa dan Amiruddin PKL di Jalan Pattimura Tebingtinggi menyesalkan Pemko Tebingtinggi memberikan izin pasar murah itu. “Belakangan ini kami terus jadi korban Pemko Tebingtinggi,” keluh Ucok Salim.

Dikatakan, tahun lalu akibat pembangunan jembatan Patimura, PKL digusur, kemudian waktu mau dibangun jembatan Iskandar Muda, PKL kembali diganggu. Kini, pasar murah ‘Kampung Ramadhan’ malah jadi pesaing yang sengaja diciptakan Pemko Tebingtinggi. Kami macamnya dimatikan pelan-pelan,” ujar Amiruddin.

Mantan Ketua HIPMI periode sebelumnya Muhammad Faisal SE, mengaku kegiatan yang awalnya digagasnya itu, telah melenceng dari tujuan semula. Tujuan kegiatan itu, kata Faisal, untuk mendukung PKL dan usaha mikro, bukan mematikannya. Harusnya, kegiatan itu memberikan PKL untuk ekspansi usaha. Artinya, mereka tetap buka usaha di tempat awal, tapi bisa buka usaha di ‘Kampung Ramadhan’ dan bukan jadi ajang bisnis macam sekarang ini,” tegas dia.

Fungsionaris Kadin Tebingtinggi, M Iqbal, memprediksi dari pengalaman sebelumnya, 95 persen hasil jual beli kegiatan itu dinikmati pedagang luar. Dari kalkulasi kasar, kegiatan itu bisa menghasilkan jual beli sekira Rp 4,5 miliar. Tapi, dari jual beli sebesar itu, PKL Tebingtinggi hanya kebagian kecil saja. “Ini indikasi Pemko Tebingtinggi tak peduli nasib PKL”, tegas Iqbal.

Kadis Kouperindag HM Yunus Matondang SE mengatakan, semula mengundang PKL, tapi mereka tak mampu membayar biaya yang diminta pihak panitia. Namun, kegiatan itu tetap memberi ruang pada PKL untuk berusaha, dengan meminta lurah membawa warganya mengisi stand pedagang mikro (makanan/minuman). “Ada 55 stand disiapkan untuk mereka,” katanya.(jpa)

Sebarluaskan:
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • Print

Fasilitas Komentar Ditutup.

<<-- MEDAN -- PEKANBARU -- PERAWANG -- BANGKINANG -- KERINCI -- JAMBI -- DUMAI -- SIBOLGA <<--